BURGERKILL
Burgerkill
adalah sebuah band metalcore yang berasal dari kota Bandung, Jawa Barat. Nama
band ini diambil dari sebuah nama restaurant makanan siap saji asal Amerika,
yaitu Burger King, yang kemudian oleh mereka diparodykan menjadi
"Burgerkill".
Burgerkill berdiri pada bulan Mei 1995 di daerah Ujung
Berung tepatnya dikawasan industry sebelah Timur kota Bandung. Burgerkill
terbentuk berawal dari Eben, scenester dari Jakarta yang pindah ke Bandung
untuk melanjutkan sekolahnya. Dari sekolah itulah Eben bertemu dengan Ivan,
Kimung, dan Dadan sebagai line-up pertamanya. Kimung yang saat itu masih
bersama Sonic Torment mengajak Ivan dari Infamy dan Kudung dari Forgotten untuk
bergabung di band ini.
Namun, di awal 1996, Kudung memutuskan untuk mundur
dari posisi drum dan digantikan oleh Toto dari Analvomit. Semenjak itu,
Burgerkill sering tampil di pagelaran music Hardcore Punk di Jakarta. Dan dari
situlah mereka membuka jaringan pertemanan di Gigs – gigs Jakarta. Dipertengahan 1996 – awal 1997, mereka sering
show di Bandung, seperti : Bandung Berisik, Bandung Underground, dll.
Burgerkill tumbuh di scene Deathmetal Ujung Berung.
Suatu scene dimana band-band Deathmetal yang lahir didaerah sana, seperti
Jasad, Forgotten, Disinfected, Naked Truth, dll. Pada awalnya, Burgerkill
kurang di terima didaerah sana karena saat itu musik Hardcore itu seolah-olah
tidak diterima oleh anak-anak Ujung Berung. Namun Burgerkill mencoba tumbuh
dari pengaruh aliran musik Deathmetal disana.
Dengan bermodalkan demo 4 lagu dan dengan formasi
Ivan, Eben, Kimung dan Toto, mereka merekam “ Revolt Demo “ di pertengahan 1996 di Palapa Studio. Dan ini menjadi
artefak pertama Burgerkill di ranah musik Indonesia.
Awal 1998, Burgerkill sepakat untuk merekan album
pertama mereka dengan Title “ Dua Sisi
“ yang berisikan 10 lagu mereka di 40.1.24 Reverse Studio – Bandung. Dalam
pengerjaan album tersebut memakan waktu yang lama, yang memakan waktu hampir 1
tahun karena terkendala masalah dana dikarenakan mereka masih patungan untuk
rekaman. Lalu dengan ide sendiri, Eben menawarkan Demo Album ke Riotic Records
dan mereka sedang mencari Label.
Namun di awal tahun 200, di tengah persiapan merilis
album perdananya, Kimung memutuskan untuk tidak lagi bersama Burgerkill karena
pada saat itu Kimung terkendala dengan masalah obat-obatan dan dia (Kimung)
susah untuk di ajak diskusi bersama band. Tapi pada akhirnya, Burgerkill
merilis album “ Dua Sisi “ yang
bekerja sama dengan Riotic Records pada Juni 2000. Dan diluar dugaan mereka,
album ini berhasil terjual sebanyak 2000 keping di tahun pertamanya.
Untuk mengisi kekosongan formasi, mereka merekrut
Andris dari Disinfected di posisi Drum dan Ugum dari Disorder Lies sebagai
gitaris kedua di tubuh Burgerkill. Namun sayang, formasi ini pun tidak mampu
bertahan lama. Awal tahun 2003, posisi Ugum digantikan oleh Agung yang ketika
itu masih bergabung bersama Jeruji. Bersama Agung, Burgerkill kembali
melanjutkan proses penulisan lagu untuk album kedua mereka. Mereka pun mengajak
Fadly dari ‘ Padi ‘ untuk
berkolaborasi di lagu “ Tiga Titik Hitam
“.
Di akhir proses
pengerjaan album, secara mengejutkan datang tawaran dari Sony Music Entertainment Indonesia untuk merilis album kedua mereka
yang bertitle “ Berkarat “ dan
mengedarkan secara nasional. Pada akhirnya album “ Berkarat “ resmi menghajar pasar nasional pada januari 2004, dan
rilisan ini menjadi album hardcore pertama yang dirilis oleh sebuah label besar
di Indonesia.
Kerja keras mereka akhirnya berbuah manis. Single “ Terllit Asa “ dan “ tiga titik hitam “ semakin sering diputar di radio-radio nasional.
Album Berkarat semakin diburu oleh
fans Burgerkill ( Begundal ). Album Berkarat
akhirnya masuk dalam nominasi di
ajang penghargaan music terbesar di Indonesia, yaitu AMI AWARDS dan memenangkan
nominasi tersebut.
Setelah sempat mengalami hiatus karena berbagai
kesibukan, awal 2005 Burgerkill kembali berkonsentrasi menggarap materi baru
untuk album ketiga. Namun ketika mendekati masa tengat jadwal dari Sony Musik
Ent. Indonesia , Toto memutuskan untuk meninggalkan Burgerkill pada bulan Mei
2005. Meski tanpa pemain Bass, mereka berempat sepakan untuk melanjutkan proses
penggarapan materi baru sebagai demo awal yang akan di serahkan ke pihak label.
Pada saat itu, Andris yang awalnya mengisi posisi Bass dipindahkan ke posisi
Drum, dan dengan adanya perpindahan posisi tersebut ternyata membawa hasil yang
positif dan mereka lebih berani dalam mengeksplorasi lagu.
Tak lama berselang, karena tidak adanya kesepahaman
teknis produksi album, akhirnya Burgerkill menyudahi kontrak kerja sama dengan
Sony Musik Ent. Indonesia.
Beberapa bulan kemudian, mereka merayakan ulang tahun
yang ke sepuluh dengan menggelar konser fenomenal “ Burgerkill Hell Show a Give Back 10 Year Anniversary “. Pada saat
itu, mereka mengundang semua mantan personil Burgerkill untuk merayakan
bersama.
Tak ada kata menyerah ! mereka nekat merekam album
ketiganya yang bekerja sama dengan Revolt Records yang didirikan oleh Eben dan
teman-teman di Burgerkill awal tahun 2006.
Pada saat pengerjaan album tersebut, Ivan sang Vokalis
terlihat sedang tidak enak badan. Kondisinya sangat memprihatinkan, badannya
sudah tidak mendukung sampai personil yang lain hingga menyediakan ember kecil
untuk batuk berdahak Ivan. Dan di mata teman-temannya pada saat itu, dia
terlihat berbeda dari biasanya.
Awal Juli 2006, Burgerkill diundang untuk tampil di
sebuah Skate Park di Bandung, dan ternyata ini adalah konser terakhir Ivan
bersama band yang dicintainya. Pada malam itu,
Ivan bilang ke Ebenz kalau kepalanya jadi sering sakit dan batuknya tidak berhenti-henti, tapi pada saat itu Ivan tidak menunjukkan kalau dia sedang sakit.
Ivan bilang ke Ebenz kalau kepalanya jadi sering sakit dan batuknya tidak berhenti-henti, tapi pada saat itu Ivan tidak menunjukkan kalau dia sedang sakit.
Ditengah persiapan peluncuran album ketiga, mereka
dikejutkan oleh berita tentang kondisi kesehatan Ivan yang memburuk. Tanpa
pikir panjang, mereka membawa Ivan kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan
intensif. Namun Tuhan berencana lain. Tiga hari kemudian, Ivan meninggal dunia
dengan tenang pada 27 Juli 2006.
Dalam kondisi berduka, Burgerkill harus bertindak cepat
untuk mencari vokalis sementara di
konser peluncuran album ketiga yang sudah mereka simpan sejak lama. Pilihan
mereka jatuh kepada Yadi Behom dari Motordeath untuk mengisi posisi vocal dan
Ramdan ex-Balcony sebagai pemaiin bass dimalam bersejarah itu. Album terakhir
Ivan bersama Burgerkill ternyata mampu menyita perhatian komunitas music di
seluruh Indonesia dan juga berbagai media nasional. Dan Beyond Coma And Despair juga
di nobatkan sebagai salah satu dari 20 album terbaik Indonesia tahun 2006 versi
majalah Rolling Stone Indonesia.
Januari 2007, dengan bantuan tim kolektif radiasi
malang, Burgerkill menggelar rangkaian tour Jawa – Bali dan mengajak teguh ex-
Right 88 untuk mengisi posisi vokal. Setelah sukses menggelar rangkaian tour
jawa – Bali, mereka segera mencari vokalis baru melalui proses audisi. Dari
beberapa demo yang masuk, terpilihlah Vicky sebagai vokalis baru Burgerkill dan
hingga saat ini.
Berita baik datang di penghujung tahun 2007, majalah
Rolling Stone Indonesia kembali
mendaulat Beyond Coma And Despair sebagai salah ssatu dari 150 album Indonesia
terbaik sepanjang masa. Tak lama berselang, Kimung yang juga sahabat Ivan,
menerbitkan novel tentang perjalanan hidup Ivan yang berjudul “ My Self Scumbag, Beyond Life and Death ”.
Ditengah gairah perkembangan musik metal di Bandung,
ranah music Indonesia dikejutkan oleh tragedy berdarah meninggalnya 11 orang di
gedung AACC Bandung seusai konser band Beside, 9 Februari 2008. Namun, kondisi
ini tidak membuat mereka menyerah begitu saja. Burgerkill terus tampil di
berbagai festival musik besar di luar kota Bandung, bahkan di undang untuk
tampil bersama band-band metal Internasional.
Benua Kangguru menjadi target baru agresi Burgerkill.
Agustus 2008, Beyond Coma and Despair resmi di edarkan di Australia dan mereka
berkesempatan menggelar promo tour hinggal tampil di Soundwwave Festival 2009.
Agresi pun berlanjut, Mei 2009 Burgerkill menggelar tour di Malaysia dan
Singapura dibantu oleh teman-teman mereka di dua Negara tersebut. Pada saat di
Malaysia, kebanyakan komunitas metal disana mengenal Burgerkill lewat album Dua
Sisi dan Berkarat.
Kabar
mengejutkan kembali menghampiri Burgerkill. Januari 2010 mereka diundang untuk
tampil di sebuah festival musik terbesar di Australia ‘ Big Day Out’ dan menjadi satu-satunya band dari Asia yang tampil
disana. Selepas tour ' The Invasion of Noise 2 '
Burgerkill kembali berkosentrasi merekam album materi ke empatnya. Sebuah album
yang disiapkan sebagai senjata pemnbuktian akan tajamnya taring Burgerkill.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar